Tag Archive: Nasehat


Kemarin, hari Ahad, tanggal 23 Mei 2010, aku menghadiri seminar di UNS. Lucu, jauh-jauh dari sragen ke solo, eh kehabisan tiket ^_^. Alhamdulillah masih bisa pakai kwitansi. Judul seminar kali itu adalah “Metamorphosa from adolesence to great parents”. Begitulah kalo tidak salah. Dibantu adikku, aku pun berhasil duduk di ruangan seminar. Materi pertama disampaikan oleh Salim A. Fillah. Beliau banyak memberikan ilmu mengenai pendidikan anak. Ada beberapa point yang masih saya ingat mengenai kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Point-point tersebut ada dalam permisalan berikut:

Ketika anak terantuk batu kemudian jatuh, maka ada beberapa tindakan yang dilakukan orang tua:

  1. orang tua menolong anaknya dan mengatakan, “sayang….cup..cup…ih batunya nakal…huh (memukul batu)”
  2. orang tua menolong dan mengatakan, “tuh kan….! apa mama bilang…?! sudah dibilangi jangan lar-lari…..bla.. bla.. bla..”
  3. orang tua menolong dan mengatakan, “udah… gak apa-apa… kan jagoan…masak gitu aja nangis…?”

Maka inilah arti dari tindakan orang tua tersebut, Baca lebih lanjut

Iklan

Ibuku Seorang Pembohong


Artikel ini kudapat dari sebuah tulisan di sebuah website. Maaf aku dah lupa websitenya coz dapetnya udah lama. Sekali lagi bagi yang merasa artikel ini hak ciptanya, saya minta maaf dan mohon izinnya untuk membagi ilmu dan renungannya. Jazakumullohu khoiron.

Anda masih ada Ibu? Atau anda sendiri adalah seorang Ibu? Jika jawapannya “YA” maka silakan teruskan membaca…
Memang sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang berlaku. Ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga miskin. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan berlaukkan ikan masin dikongsi satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering saja merungut. Saya menangis mahukan nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu cepat memujuk. Ketika makan, ibu sering membahagikan bahagian nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : “”Makanlah nak ibu tak lapar.” – PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Ketika saya mulai besar ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di tali air berhampiran rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami adik-beradik. Pulang dari memancing, ibu memasak gulai ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu saya memakan gulai ikan itu ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang daripada bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu.. Hati saya tersentuh lalu dengan menggunakan sudu saya memberikan ikan itu kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.” – PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA. Baca lebih lanjut

By: AA’ Fillah (Ana Akhukum Fillah): Solo.
BANTU AKU MENJAGA MATAKU…
Tinggalkan masa lalu, ukhti. Ini saatnya kita berpikir jernih: menunda berhias sampai ia menjadi berpahala. Adalah konyol, berhias untuk orang yang belum pasti menjadi menjadi suami atau isteri, sementara di dalamnya kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkanya dengan make up perilaku jahiliyah. Dengarlah Allah sendiri mengajakmu bicara:
“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu…” (Al-Ahzab: 33)
Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Betapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas si Iblis, yang menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahili. Mentap perilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti membuat aku tertarik. Memandangmu…, walau selalu…,kata seorang penyanyi, tak akan pernah tumbuh jemu di hatiku.
Astaghfirullah, seharusnya kebahagiaan, ketertarikan, dan ketidakjemuan itu tidak perlu hadir jika ia menghadirkan nyala neraka di pelupuk. Engkau lebih tahu bagaimana menjaga dirimu dari mataku. Bantu aku menjaga mata ini, agar kita semua selamat sampai akhir nanti. Bantu aku, bantu aku menjaga mata ini…

BANTU AKU MENGHINDARI KEBISINGAN SYAHWAT
Yang kedua, ingatlah bahwa telingaku bisa jadi adalah gua yang nyaman bagi syaithan. Di sana ada genderang syahwat yang dengan mudah bisa di tabuh dan diperdengarkan. Lengkingan bisikan dahsyat ini bisa meresonasi syaraf-syaraf syahwati.
“…Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…” (An-Nur: 31)
Tahukah engaku bahwa imajinasi Baca lebih lanjut

Wahai anakku! Meskipun aku adalah seorang bapak yang sangat cinta terhadapmu, meskipun ayahmu ini adalah seorang ustadz, kyai, muballigh, tapi ketahuilah bahwa aku tak kuasa menyelamatkan dirimu dari sengatan api neraka kelak pada hari kiamat. Sadarlah… dan segera bangkitlah untuk mencari keselamatan akhiratmu. Ingatkah kau terhadap kisah dua istri Nabi, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth? Meskipun mereka berkedudukan sebagai belahan hati suami (garwo/ sigaraning nyowo-jw.), namun Allah menjadikan mengabadikan nama mereka berdua di dalam kitab-Nya sebagai contoh calon penghuni neraka. Hal itu karena mereka mengkhiyanati suami, dan tidak mau beriman kepada Allah. Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak kuasa untuk menyelamatkan istri atau bahka anak mereka. Bahkan Para Nabi tidak kuasa atas keselamatan dirinya. Mereka selamat dari adzab kelak, hanya semata karena rahmat dan belas kasih dari Allah.
Allah berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10) [التحريم/10]
Allah telah membuat permisalan bagi orang kafir, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi luth. Keduanya dibawah bimbingan dua hamba Allah yang shalih, namun keduanya berkhianat. Maka tidaklah (Nabi Nuh dan Nabi Luth) berkuasa untuk menyelamatkan keduanya dari adzab Allah sedikitpun. Dan dikatakan kepada keduanya (kelak), “Masuklah kalian ke neraka besama orang-orang yang masuk ke dalamnya” At-Tahrim: 10.

Nah…, Nabi saja tidak bisa menyelamatkan istrinya. Lalu, bagaimana dengan manusia yang lain. Apalagi kalau hanya berpredikat sebagai ustadz, kyai, atau yang semisalnya. Subhanallah, tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari api neraka Allah. Maka dari itu, sekaranglah saatnya kau bangkit untuk menggagas masa depan. Berusahalah dengan sekuat tenaga untuk menggapai kejaan akhirat.
Wahai anakku…, yuk kita telaah tentang kisah Nabi Muhammad ketika diturunkan kepada beliau ayat”wa andzir asyiratakal ‘aqrabin”. Apa yang beliau Lakukan? Simak baik-baik riwayat berikut ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ يَا بَنِي مُرَّةَ بْنِ كَعْبٍ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ وَيَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ وَيَا بَنِي هَاشِمٍ وَيَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ وَيَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا.
Dari Abu Hurairah dia berkata, ketika turun ayat ”wa andzir asyiratakan aqrabin” (dan berilah ancaman kepada keluarga dekatmu), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru semua orang Quraisy. Beliau bersabda, “Wahai bani Ka’b bin Luay. Wahai bani Murrah bin Ka’b. Wahai bani Abdi Syams. Wahai bani Abdi Manaf. Wahai bani Hasyim. Wahai bani Abdul Muththalib. Selamatkan diri Baca lebih lanjut

Segala pujian hanya milik Allah yang menciptakan manusia dan memberi mereka petunjuk. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada baginda Nabi Muhammad beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang selalu istiqamah mengikuti manhajnya hingga hari akhir. Amma ba’du :

Sebuah firman Allah menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang beriman dan mempunyai ilmu. Allah berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11) [المجادلة/11]
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat. Dan Allah itu Maha banyak khabar terhadap apa yang kalian lakukan. Al-Mujadilah: 11.

Ilmu adalah cahaya. Tanpa ilmu, manusia buta. Tanpa ilmu, manusia pasti binasa. Begitulah ilmu. Ia merupakan kebutuhan pokok manusia. Karena pentingnya ilmu, Allah memerintahkan nabi untuk selalu meminta tambahan ilmu.
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (114) [طه/114]
Dan katakanlah, “Wahai Pemeliaharaku! Tambahkanlah padaku ilmu.” Thaha: 114.

Seorang tokoh ulama besar sedang sakit dan mendekati ajal. Tokoh-tokoh lain dan orang-orang shaleh yang mengetahui keadaannya ingin menengoknya, tetapi sang tokoh melarang mereka semua menjenguknya. Hanya seorang yang terkenal bakhil – yang terlalu mencintai dunia dan dirinya sendiri – yang diperkenankan menengoknya. Hal ini membuat orang-orang heran dan sebaliknya, membuat si bakhil gembira bukan main. Karena menurutnya, ini merupakan bukti dan pertanda bahwa penilaian orang-orang selama ini membenci dan menjauhinya salah belaka. Kalau sikap terlalu mencintai dunia dan diri sendiri dianggap jahat, mengapa justru tokoh alim yang dekat dengan Tuhannya, yang sedang dalam keadaan kritis ini, mengizinkannya menjenguk pada saat orang-orang lain dilarang.
Setelah si bakhil masuk ke dalam kamar sang tokoh, barulah semuanmya
Di pembaringannya, sang tokoh berkata lirih kepada si bakhil, “Lihatlah ke kaca jendela itu! Apa yang kau lihat?”
Si bakhil melihat ke kaca jendela, kemudian berkata, “ Saya melihat langit biru dan awan berarak-arak, juga gunung nun jauh di sana.”
“Apa lagi?”
“Saya melihat juga pohon-pohonan dan burung-burung terbang di udara.”
“Apa lagi?”
‘Saya juga melihat banyak orang lalu lalang di jalan dan bergerombol-gerombol di tepi jalan.”
Sang tokoh tersenyum tipis, kemudian katanya, “Ya, melalui kaca jendela itu kau bisa melihat apa saja. Bisa melihat kebesaran Allah dalam alam semesta ciptaan-Nya.” Sang tokoh berhenti sejenak, baru kemudian – sambil menunjuk cermin besar di kamar itu – melanjutkan berkata,” Sekarang kau tengoklah cermin di sampingmu ! Apa yang kau lihat?”
“Aku hanya melihat wajahku sendiri,” Kata si bakhil.
“Nah, kau lihat sendiri,” Kata sang tokoh kemudian, “Kaca jendela ataupun cermin adalah sama-sama kaca. Bedanya, di belakang kaca cermin ada lapisan tipis yang Baca lebih lanjut

Al-hakim dan lain-lainnya telah menyebutkan bahwa ada seorang ahli zuhud yang gampang mengada-adakan hadits-hadits tentang fadhilah Al qur’an serta surat-suratnya. Lalu ada yang bertanya kepadanya,” Mengapa engkau lakukan hal ini?”
Ahli zuhud menjawab,” Kulihat banyak orang yang berzuhud mengenai al-qur’an. Maka aku pun senang menganjurkannya kepada manusia.”
Penanya berkata,” Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”Barang siapa membuat kedustaan atas diriku secara sengaja, maka ia akan menduduki tempat duduknya dari api neraka.”
Ahli zuhud berkata,”Aku tidak membuat kedustaan atas diri beliau. Tapi aku membuat kedustaan bagi diri beliau.”
Maksudanya, kedustaan atas diri beliau dapat menimbulkan kebinasaan atas kaidah-kaidah Islam, merusak syariat dan hukum. Tapi tidak begitu halnya dengan membuat kedustaan bagi diri beliau. Karena membuat kedustaan bagi diri beliau justru merupakan anjuran untuk mengikuti syariatnya dan menyelusuri jejaknya.
Syaikh Izzuddin Abdus salam berkata, “Ucapan adalah sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan yang terpuji memungkinkan dicapai dengan pembenaran maupun kedustaan. Tapi kedustaan adalah haram. Bila tujuan memungkinkan dicapai dengan pembenaran, maka Baca lebih lanjut

Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata:

“لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ اَلِهِ وَ سَلَّمَ اْلمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَاْلمُتَرَجِّلَاتِ مِنَ النِّسَاء”

Artinya :
“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan yang berlagak seperti laki-laki.”
Setelah membaca hadits ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak pembaca, seperti : Apakah laknat Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ini hanya akan dtimpakan kepada kaum lelaki yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dalam cara berpakaian dan cara berperilaku, dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum lelaki juga dalam cara berpakaian dan cara berperilaku saja? Apakah laknat yang dimaksud adalah laknat dalam arti kemarahan, kebencian, dan penjauhan diri dari rahmat, belas kasih, dan pertolongan dari-Nya? Apakah makna leksikal dan denotatif tidak mencakup mereka yang melakukan penyimpangan terhadap fitrah yang harus diperankan oleh masing-masing jenis, baik secara biologis maupun psikologis, seperti orang tua renta yang berlagak kekanak-kanakan, orang miskin yang berlagak jutawan, ataupun seorang cendekia yang berlagak bodoh dengan melepaskan diri dari berbagai problematika yang sebenarnya mampu ia selesaikan? Atau adakah arti lain di balik semua itu yang mencakup segala jenis penyimpangan, termasuk terjadinya penukaran lapangan pekerjaan, di mana kaum lelaki bekerja sebagaimana kaum wanita dan sebaliknya, kaum wanita bekerja sebagaimana kaum lelaki?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin artikel yang ditulis oleh Dr. Najib Ammarah – sebagaimana yang akan penulis kemukakan di bawah ini – dapat menjadi sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan yang muncul di benak para pembaca. Beliau (Dr. Ammarah) telah mengulas permasalahan di atas secara ilmiah sebagaimana yang beliau tulis di dalam majalah Ad-Dakwah berikut ini :
“Di antara kondisi lelaki dan wanita adalah bahwa di dalam tubuh laki-laki terdapat hormon yang dimiliki oleh wanita (progresteron), sedangkan wanita juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh laki-laki (testoteron). Sehingga laki-laki mempunyai potensi naluriah yang dimiliki kaum wanita, seperti kelembutan, kasih sayang, kelenturan tubuh dan bertingkah laku seperti wanita. Begitu pula seorang wanita juga memiliki potensi yang dimiliki oleh laki-laki, seperti watak keras, bengis, munculnya otot-otot dan bertingkah laku seperti laki-laki. Hal itu akan terbukti apabila laki-laki menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan wanita, atau wanita menyibukkan diri dengan pekerjaan- Baca lebih lanjut

Seorang temanku pernah berkomentar kepada salah seorang temanku yang lain : “Ngapain harus menggunjing orang, wong dia diejek di hadapannya saja tidak marah. Daripada mengunjing dia yang akhirnya akan mendapatkan dosa lebih baik mengejeknya saja langsung di hadapannya.”
Ketika mendengar komentar temanku tersebut, aku merenung sejenak dan berpikir apakah benar yang dikatakan olehnya itu? Memang sekilas jika kita dengarkan ucapannya tersebut seakan-akan tidak ada salahnya, bahkan ucapannya itu tampaknya benar semua. Namun ternyata jika kita pahami lebih dalam lagi makna perkataannya tersebut, akan kita dapati bahwa perkataannya itu tidak semuanya tepat. Mengapa begitu?
Untuk mengetahui semua ini, coba kita bahas satu persatu ungkapan yang terdapat dalam komentarnya tersebut. Yang pertama, yaitu : menggunjing.
Menggunjing dalam bahasa arab disebut dengan Ghibah. Definisi ghibah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ذكرك اخاك بما يكره (Dzikruka akhaaka bimaa yakrahu) “Engkau menyebut perihal saudaramu dengan apa yang ia benci/tidak ia sukai” . Ghibah secara etimologi berasal dari kata ghaba-yaghibu-ghaibah yang berarti tidak hadir. Oleh karena itu definisi ghibah yang lengkap adalah menyebut-nyebut perihal seorang muslim yang tidak ia sukai di belakang dirinya /di saat ia tidak hadir. Jika seseorang menyebut perihal yang dibenci oleh saudaranya di hadapannya secara langsung maka bukan dinamakan ghibah, akan tetapi dinamakan dengan mencela, mengejek, mencemooh, mengolok-olok, ataupun menghina.
Menurut definisi ini, maka segala bentuk ucapan yang ditujukan kepada seorang muslim mengenai keadaan dirinya yang tidak ia sukai, baik dalam hal agama, kepribadian, jasmani, maupun keluarganya adalah termasuk dari ghibah, meskipun apa yang dikatakannya itu suatu kebenaran. Namun jika yang dikatakannya itu adalah suatu kebohongan maka dia telah menggunjingnya plus melakukan kebohongan terhadapnya.
Ghibah merupakan perbuatan yang mendatangkan Baca lebih lanjut

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa yang artinya kurang lebih seperti ini: “dunia adalah penjara untuk orang-orang yang beriman dan jannah untuk orang-orang yang kafir”.

Saudaraku, hadits tersebut mengisyaratkan pada kita bahwa dunia ini hanyalah penjara untuk kita jika kita beriman, yaitu memenjarakan kita dari kenikmatan yang akan diberikan Allah kepada orang yang beriman nanti diakherat, karena kita orang beriman masih didunia maka tidak bisa masuk jannah, itulah dunia bagi orang beriman, ianya tak lebih bagai penjara/pembatas yang membatasi dirinya dengan jannah. Walaupun orang yang beriman itu kaya raya,hidup tenang, nyaman, tapi tetaplah dunia seperti penjara, keni’matannya tidak dapat menandingi dengan jannah yang dijanjikan oleh Alloh.

Tapi wahai saudaraku, dunia ini seperti syurga buat orang kafir, karena hanya di dunia ini kesempatan mereka bersenang-senang dan nanti diakherat mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat menyakitkan. walaupun mereka sangat sengsara di dunia tapi buat orang kafir kesengsaraan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan Alloh nanti di neraka.

Wahai saudaraku mari kita raih kejayaan deggan mendapatkan jannahnya Alloh!