Kemarin, hari Ahad, tanggal 23 Mei 2010, aku menghadiri seminar di UNS. Lucu, jauh-jauh dari sragen ke solo, eh kehabisan tiket ^_^. Alhamdulillah masih bisa pakai kwitansi. Judul seminar kali itu adalah “Metamorphosa from adolesence to great parents”. Begitulah kalo tidak salah. Dibantu adikku, aku pun berhasil duduk di ruangan seminar. Materi pertama disampaikan oleh Salim A. Fillah. Beliau banyak memberikan ilmu mengenai pendidikan anak. Ada beberapa point yang masih saya ingat mengenai kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Point-point tersebut ada dalam permisalan berikut:

Ketika anak terantuk batu kemudian jatuh, maka ada beberapa tindakan yang dilakukan orang tua:

  1. orang tua menolong anaknya dan mengatakan, “sayang….cup..cup…ih batunya nakal…huh (memukul batu)”
  2. orang tua menolong dan mengatakan, “tuh kan….! apa mama bilang…?! sudah dibilangi jangan lar-lari…..bla.. bla.. bla..”
  3. orang tua menolong dan mengatakan, “udah… gak apa-apa… kan jagoan…masak gitu aja nangis…?”

Maka inilah arti dari tindakan orang tua tersebut, dan mungkin berdampak pada anak ketika dewasa nanti (menurut yang disampaikan Salim):

  • Orang tua pada point 1 mengajarkan anak untuk menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpanya.
  • Orang tua pada point 2 mengajarkan anak untuk selalu menyalahkan diri sendiri. Setiap ia terkena musibah maka ia akan selalu merasa bahwa ialah penyebabnya. Anak akan merasa dirinya bodoh, lemah, dan tidak percaya diri.
  • Orang tua pada point 3 dapat membuat anak menjadi tidak peka. Salim memberikan permisalan yang cukup lucu pada point ini. Ketika orang tua mengatakan “udah… gak apa-apa… kan jagoan…masak gitu aja nangis…?” maka bisa jadi kelak sewaktu orang tua sudah lanjut usia, badan linu-linu, punggung sakit, kepala pusing-pusing, maka anak akan mengatakan sebagaimana ia dulu diajarkan, “udah ma… pa…. gak apa-apa…. masak cuma gitu aja nangis…” (ups.. Na’udzubillahi min dzaalik)

Contoh diatas merupakan opini saja,, kebenarannya Alloh lah yang lebih mengetahui. Yang terpenting, hendaknya orang tua lebih berusaha memahami anak-anak mereka. Mengajar dan mendidik anak-anak mereka berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Dan yang perlu diingat, hendaknya orang tua tidak membohongi anak, sekecil apapun kebohongan itu.

Materi kedua disampaikan oleh rektor UNS, Prof. Dr. H. M. Syamsulhadi, dr.SpKJ (K). Yang akan saya sampaikan kali ini bukan materi utama dari beliau, namun kalimat-kalimat pembukanya. Beliau menyampaikan, khususnya untuk mahasiswa kedokteran, untuk menyayangi orang miskin. Hmm…kenapa?? Karena, orang miskinlah yang membuat para dokter bisa menjadi pandai. Dimulai dari masa kuliah para calon dokter. Mereka tentu belajar dengan menggunakan cadafer (mayat). Dan kebanyakan (bahkan mungkin semua) cadafer itu adalah mantan orang miskin yang tidak terurus. Maka para calon dokter itu belajar pada orang miskin! Yang mati mengajari yang masih hidup! Kemudian, para dokter praktik di rumah sakit, sebagian besar mereka praktik di pasien kelas III, yang notabene adalah orang-orang ekonomi lemah. Para dokter itu sekali lagi belajar dari orang miskin! Maka beliau berpesan, Sayangilah Orang Miskin!

Uniknya, pesan beliau itu merupakan pesan dari ayah beliau. Prof. Syamsul dahulu adalah seorang pemuda yang cerdas. Sudah banyak panggilan dari beberapa universitas selepas beliau lulus SMA. Ketika baru 2 hari beliau mendatangi panggilan di ITS, beliau dipanggil pulang oleh ayah beliau. Kenapa? KArena beliau mendapatkan panggilan dari Fakultas Kedokteran UGM. Ayah beliau menginginkan beliau untuk menjadi dokter. Keinginan itu muncul ketika ayah beliau sakit dan berobat ke dokter, namun kemudian ayah beliau dianggap sebagai ‘orang miskin’ sehingga mendapatkan perlakuan kurang baik dari tenaga medis. Maka Ayah beliau pun menginginkan Prof. Syamsul menjadi dokter dan menyayangi orang-orang miskin. Kini keinginan beliau tercapai. Begitulah ceritanya. Prof. Syamsul menyayangkan para dokter yang memberikan resep-resep obat mahal untuk orang miskin hanya untuk mendapatkan komisi dari perusahaan obat.

Sebenarnya jika mau melakukan investigasi,,maka dunia kedokteran pun memiliki sisi gelap. Memprihatinkan. Jika ada diantara kita yang menjadi tenaga medis, maka jadilah tenaga medis yang bertakwa kepada Alloh, sehingga apapun yang kita lakukan selalu mendapatkan bimbingan dan perlindungan dari Alloh.

Inilah oleh-oleh dari seminar kemarin, semoga bermanfaat bagi teman-teman pembaca blog ini.