Al-hakim dan lain-lainnya telah menyebutkan bahwa ada seorang ahli zuhud yang gampang mengada-adakan hadits-hadits tentang fadhilah Al qur’an serta surat-suratnya. Lalu ada yang bertanya kepadanya,” Mengapa engkau lakukan hal ini?”
Ahli zuhud menjawab,” Kulihat banyak orang yang berzuhud mengenai al-qur’an. Maka aku pun senang menganjurkannya kepada manusia.”
Penanya berkata,” Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”Barang siapa membuat kedustaan atas diriku secara sengaja, maka ia akan menduduki tempat duduknya dari api neraka.”
Ahli zuhud berkata,”Aku tidak membuat kedustaan atas diri beliau. Tapi aku membuat kedustaan bagi diri beliau.”
Maksudanya, kedustaan atas diri beliau dapat menimbulkan kebinasaan atas kaidah-kaidah Islam, merusak syariat dan hukum. Tapi tidak begitu halnya dengan membuat kedustaan bagi diri beliau. Karena membuat kedustaan bagi diri beliau justru merupakan anjuran untuk mengikuti syariatnya dan menyelusuri jejaknya.
Syaikh Izzuddin Abdus salam berkata, “Ucapan adalah sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan yang terpuji memungkinkan dicapai dengan pembenaran maupun kedustaan. Tapi kedustaan adalah haram. Bila tujuan memungkinkan dicapai dengan pembenaran, maka kedustaan itu mubah bila memang pencapaian tujuan itu termasuk mubah, dan wajib andaikata pencapaian tujuan itu juga wajib. Inilah yang menjadi ukurannya.”
Tentang hal ini kita perlu mengucapkan la haula wa la quwwata illa billahi dan berta’awwudz kepada Allah.
Orang lain tentu merasa sangat heran bila ucapan seperti ini terlontar dari seseorang yang menggabungkan dirinya dalam kelompok mufassirin bagi Kitab Allah. Bahkan sebagian dari mereka ada pula yang disebut sebagai ahli ilmu ushul dan fiqih. Lalu fiqih macam apa yang ada pada orang yang tak mengetahui hal-hal yang harus diprioritaskan oleh ulama yang hakiki?
Syaikh di atas (ahli zuhud) yang memiliki kecenderungan sufisme tidak mengetahui bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita dan menyempurnakan nikmat atas diri kita. Berarti kita tidak membutuhkan lagi seseorang yang menyempurnakan agama itu bagi kita, dengan cara mengada-adakan hadits dari dirinya sendiri.Seakan-akan ia hendak membuat batasan bagi Allah dan menguji Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan ia berkata kepada beliau: “Aku membuat kedustaan bagi dirimu, agar aku dapat menyempurnakan bagimu agamamu yang masih kurang dan menutup celah-celah kosong yang ada di dalamnya. Maka aku pun membuat beberapa hadits.”