Wahai anakku! Meskipun aku adalah seorang bapak yang sangat cinta terhadapmu, meskipun ayahmu ini adalah seorang ustadz, kyai, muballigh, tapi ketahuilah bahwa aku tak kuasa menyelamatkan dirimu dari sengatan api neraka kelak pada hari kiamat. Sadarlah… dan segera bangkitlah untuk mencari keselamatan akhiratmu. Ingatkah kau terhadap kisah dua istri Nabi, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth? Meskipun mereka berkedudukan sebagai belahan hati suami (garwo/ sigaraning nyowo-jw.), namun Allah menjadikan mengabadikan nama mereka berdua di dalam kitab-Nya sebagai contoh calon penghuni neraka. Hal itu karena mereka mengkhiyanati suami, dan tidak mau beriman kepada Allah. Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak kuasa untuk menyelamatkan istri atau bahka anak mereka. Bahkan Para Nabi tidak kuasa atas keselamatan dirinya. Mereka selamat dari adzab kelak, hanya semata karena rahmat dan belas kasih dari Allah.
Allah berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10) [التحريم/10]
Allah telah membuat permisalan bagi orang kafir, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi luth. Keduanya dibawah bimbingan dua hamba Allah yang shalih, namun keduanya berkhianat. Maka tidaklah (Nabi Nuh dan Nabi Luth) berkuasa untuk menyelamatkan keduanya dari adzab Allah sedikitpun. Dan dikatakan kepada keduanya (kelak), “Masuklah kalian ke neraka besama orang-orang yang masuk ke dalamnya” At-Tahrim: 10.

Nah…, Nabi saja tidak bisa menyelamatkan istrinya. Lalu, bagaimana dengan manusia yang lain. Apalagi kalau hanya berpredikat sebagai ustadz, kyai, atau yang semisalnya. Subhanallah, tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari api neraka Allah. Maka dari itu, sekaranglah saatnya kau bangkit untuk menggagas masa depan. Berusahalah dengan sekuat tenaga untuk menggapai kejaan akhirat.
Wahai anakku…, yuk kita telaah tentang kisah Nabi Muhammad ketika diturunkan kepada beliau ayat”wa andzir asyiratakal ‘aqrabin”. Apa yang beliau Lakukan? Simak baik-baik riwayat berikut ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ يَا بَنِي مُرَّةَ بْنِ كَعْبٍ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ وَيَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ وَيَا بَنِي هَاشِمٍ وَيَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ وَيَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا.
Dari Abu Hurairah dia berkata, ketika turun ayat ”wa andzir asyiratakan aqrabin” (dan berilah ancaman kepada keluarga dekatmu), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru semua orang Quraisy. Beliau bersabda, “Wahai bani Ka’b bin Luay. Wahai bani Murrah bin Ka’b. Wahai bani Abdi Syams. Wahai bani Abdi Manaf. Wahai bani Hasyim. Wahai bani Abdul Muththalib. Selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah, selamtkan dirimu sendiri dari api neraka. Sesungguhnya aku tak berkuasa untuk keselamatan kalian dari adzab Allah sedikitpun. Hanya saja aku ada hubungan persaudaraan dengan kalian. Aku akan berusaha untuk menjaga hubungan ini. HR. An-Nasa`i.

Sekali lagi, manusia yang berpredikat sebagai Nabi saja tidak dapat menyelamatkan keluarganya dari api neraka, lantas bagaimana dengan manusia selainnya?!!
Wahai anakku…, buanglah jauh-jauh kemalasanmu. Ingatlah kita hidup di dunia ini hanya sebentar. Kita bagaikan musafir yang istirahat sejenak dan akan melanjutkan perjalananya. Perjalanan yang kita tempuh sangat jauh. Perjalanan kita adalah menuju kampung akhirat. Kita membutuhkan bekal yang cukup banyak untuk mendapatkan kebahagiaan dan kemakmuran hidup di jannah Allah.
Ingatlah, umur yang dianugrahkan kepada kita ini adalah amanah. Kita diuji oleh Allah dengan karunia ini. Bagaimana kita menggunakannya? Untuk ketaatan atau kemaksiatan. Beruntunglah orang yang menghabiskan umurnya untuk memperbanyak amal kebaikan. Berbahagialah orang yang mengorbankan kesenangan dunia untuk menggapai keridlaan Allah.
Umur yang kita sangka cukup lama, seratus tahun misalnya, kelak kita akan merasakan bahwa itu adalah waktu yang cukup singkat. Allah berfirman:
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (47) [الحج/47]
Dan sungguh satu hari di sisi Pemeliharamu bagaikan seribu tahun yang kalian menghitungnya. Al-Hajj: 47.

Kelak di akhirat, kita akan merasakan bahwa umur hidup kita teramat singkat. Seribu tahun kita hitung di dunia, di akhirat akan terasa satu hari saja. Lalu, bagaimana dengan seratus tahun? Bagaimana dengan delapan puluh, atau lebih rendah dari itu? Maka, tungguh apa lagi. Bersegeralah untuk memperbanyak amal kebaikan. Tinggalkanlah kesibukan yang tak bermakna. Perhatikan setiap langkah dan nafasmu. Manfaat apa yang telah engkau dapat dari nikmat pemberian Allah itu.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ ».
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk baiknya islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna bagi dirinya.” HR. At-Tirmidzi.
Nak…, mumpung kamu masih muda. Kesempatan untuk meraih kebaikan sangat luas. Berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Tumbuhlah sebagai pemuda yang gigih memperjuangkan agama Allah. Tidakkah kau mengingat sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tujuh golongan manusia yang kelak akan mendapat naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah saja? Tidakkah kau mengetahui bahwa yang berpeluang banyak untuk meraih kedudukan mulia itu adalah para pemuda? Ya. Kalianlah yang berpeluang untu memborong semua keutamaan tersebut. Mungkin ada baiknya kita menyimak kembali hadits tersebut untuk menambah semangat kita.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ . وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ »
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: 1. Imam (pemimpin) yang adil, 2. Pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Pemeliharanya, 3. Seseorang yang hatinya selalu tertambat di masjid, 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Keduanya berkumpul karena Allah dan keduanya berpisah karena-Nya. 5. Seseorang yang dirayu seorang wanita yang berkedudukan dan cantik rupa, lalu dia berkata: inni akhafullah (sesungguhnya aku takut kepada Allah), 6. Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu terhadap apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya. 7. Seseorang yang mengingat Allah di kesepian, lalu kedua matanya melelehkan air mata. HR. Al-Bukhari.

Allahu Akbar…, Engkau berpeluang untuk menjadi tujuh golongan tersebut sekaligus. Gunakanlah kesempatan emas ini sebaik mungkin. Jangan engkau lewatkan dengan sia-sia begitu saja.
Ingatlah…, engkau diciptakan melainkan untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) [الذاريات/56]
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku. Ad-Dzariyat: 56.

Usahakanlah setiap gerak dan langkah dalam hidupmu dalam rangkan beribadah dan mengharap keridlaan Allah. Jadikanlah setiap amalmu penuh makna dan memberatkan timbangan kebaikan di akhiratmu kelak. Berbahagialah jika timbangan amal kebaikanmu sangat berat dan lebih banyak daripada timbangan keburukanmu.
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11) [القارعة/6-11]
Maka adapun orang yang timbangan kebaiannya berat, maka dia akan berada pada kehidupan yang sangat menyenangkan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah hawiyah. Taukah kamu apakah dia itu. Dia adalah neraka yang sangat panas. Al-Qari’ah: 6-11.

Allah menciptakan kehidupan dan kematian ini tujuannya adalah untuk menguji manusia, siapakah di antara mereka yang paling banyak amal kebaikannya. Maka berusahalah untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjadilah yang terbaik. Selanjutlah jadilah pelopor dalam melakukan kebaikan.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2) [الملك/2]
Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji mana di antara kalian yang paling baik amalannya. Dan dia adalah Dzat Maha Gagah lagi Maha Pengampun. Al-Mulk: 2.

Kalau begitu, hidup ini untuk bersaing dan berlomba. Siapakah yang terbaik, maka dia yang akan berbahagia. Ya. Memang hidup ini untuk itu, tetapi bersaing untuk kepentingan urusan akhirat. Bukan dalam hal meraih harta kekayaan dunia, akan tetapi untuk meraih kekayaan di akhirat sana. Kita diperintah untuk berlomba-lomba dalam menjalankan segala bentuk kebaikan, amalan maupun ucapan.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ [المائدة/48]
Maka berlombalah untuk melakukan kebaikan. AL-Maidah: 48.

Lalu, tunggu apa lagi? Kalau di hari-hari yang lalu kita tidak mengerti bahwa hidup ini merupakan ladang perlombaan untuk meraih kejayaan abadi di akhirat, maka sejak detik ini kita harus segaera masuk dan bersungguh-sungguh dalam perlombaan ini supaya kita mendapatkan peringkat yang tertinggi dan menjadi pemenang. Ketahuilah! Kita saat ini belum terlambat. Kita masih punya peluang untuk menjadi pemenang dalam perlombaan ini, selagi nyawa masih menyatu dengan raga dan kemauan untuk mencapai finish sangat kuat. Seseorang dikatakan terlambat dalam mengikuti perlombaan ini manakala dia mengalami sakaratul maut, nyawa sudah hampir berpisah dengan tubuh, kemudian dalam keadaan itu dia ingin mengikuti perlombaan. Inilah yang dikatakan terlambat.
Untuk menjadi orang yang terbaik, tidak cukup dengan melakukan kebaikan, sementara dia melupakan segala keburukan, kemaksiatan, dan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Ingat, kita harus menyadari bahwa selamanya kita tidak pernah akan terlepas dari salah dan khilaf. Oleh karena itu, selayaknya bahkan merupakan keharusan dan kewajiban kita untuk selalu memohon ampu kepada Allah kapan dan di manapun. Dalam hal memohon ampun ini kita disuruhkan untuk melakukannya segera mugkin. Ada dalilnya ga ni? Simaklah ayat berikut:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) [آل عمران/133]
Dan bersegeralah kepada ampunan dari pemelihara kalian dan surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Ali Imran: 133.

Di ayat lain, Allah berfirman:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ [الحديد/21]
Berlombalah kepada ampunan dari pemelihara kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Al-Hadid: 21.

Di saat manusia tersibukkan dengan urusan dunia. Ketika manusia mengabaikan urusan akhirat. inilah kesempatan emas untuk menjadi pemenang dalam perlombaan dalam kehidupan ini. Bersegeralah untuk memohon ampun kepada Allah dan jangan lupa untuk meminta kekuatan dalam menjalankan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya hingga akhir hayat.
Anakku…, mungkin sekian dahulu apa yang kiranya ingin aku wasiatkan kepadamu. Semoga yang sedikit ini dapat menggugah hati kecilmu, sehingga engkau tersadarkan karenanya. Aku memohon kepada Allah untuk selalu membimbing dan menunjukimu kepada jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Allah memberikan nikmat kepada mereka, bukan orang-orang yang dimurkaiNya, dan bukan orang-orang yang tersesat.
Anakku…, bantulah doa baikku ini dengan usaha dan kesungguhanmu. Ayahmu hanya bisa memohon dan berdoa kepada Allah.
Anakku…, aku tidak kuasa menyelamatkanmu dari adzab Allah. Kelak, kita akan tersibukkan dengan urusan pribadi masing-masing. Tak saling peduli. Setiap kita akan diminta tanggung jawab atas segala perbuatan yang pernah kita lakukan semasa di dunia. Bahkan aku kelak akan melupakan dirimu. Oleh karena itu, berusahalah untuk keselamatan dirimu. Jangan pernah bangga dengan apa yang ada pada diri ayahmu. Banggalah dengan apa yang ada pada dirimu. Tetapi, jangan sampai engkau melampaui batas dalam membanggakan dirimu sehingga engkau tergolong orang-orang yang sombong. Cukuplah kamu mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah yang telah memberi segala karunia kepadamu.

Sekian dariku…, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.