Seorang tokoh ulama besar sedang sakit dan mendekati ajal. Tokoh-tokoh lain dan orang-orang shaleh yang mengetahui keadaannya ingin menengoknya, tetapi sang tokoh melarang mereka semua menjenguknya. Hanya seorang yang terkenal bakhil – yang terlalu mencintai dunia dan dirinya sendiri – yang diperkenankan menengoknya. Hal ini membuat orang-orang heran dan sebaliknya, membuat si bakhil gembira bukan main. Karena menurutnya, ini merupakan bukti dan pertanda bahwa penilaian orang-orang selama ini membenci dan menjauhinya salah belaka. Kalau sikap terlalu mencintai dunia dan diri sendiri dianggap jahat, mengapa justru tokoh alim yang dekat dengan Tuhannya, yang sedang dalam keadaan kritis ini, mengizinkannya menjenguk pada saat orang-orang lain dilarang.
Setelah si bakhil masuk ke dalam kamar sang tokoh, barulah semuanmya
Di pembaringannya, sang tokoh berkata lirih kepada si bakhil, “Lihatlah ke kaca jendela itu! Apa yang kau lihat?”
Si bakhil melihat ke kaca jendela, kemudian berkata, “ Saya melihat langit biru dan awan berarak-arak, juga gunung nun jauh di sana.”
“Apa lagi?”
“Saya melihat juga pohon-pohonan dan burung-burung terbang di udara.”
“Apa lagi?”
‘Saya juga melihat banyak orang lalu lalang di jalan dan bergerombol-gerombol di tepi jalan.”
Sang tokoh tersenyum tipis, kemudian katanya, “Ya, melalui kaca jendela itu kau bisa melihat apa saja. Bisa melihat kebesaran Allah dalam alam semesta ciptaan-Nya.” Sang tokoh berhenti sejenak, baru kemudian – sambil menunjuk cermin besar di kamar itu – melanjutkan berkata,” Sekarang kau tengoklah cermin di sampingmu ! Apa yang kau lihat?”
“Aku hanya melihat wajahku sendiri,” Kata si bakhil.
“Nah, kau lihat sendiri,” Kata sang tokoh kemudian, “Kaca jendela ataupun cermin adalah sama-sama kaca. Bedanya, di belakang kaca cermin ada lapisan tipis yang menyebabkan kau tidak bisa melihat apa-apa selain sosok dirimu sendiri. Kalau kau posok-kikis lapisan itu sampai bersih, niscaya cermin itupun akan seperti kaca jendela itu pula, dapat membuatmu melihat manusia di baliknya. Kau bisa melihat dunia.”
Sang tokoh berhenti sejenak, mengambil nafas yang mulai sesak, baru kemudian melanjutkan, “Begitu pulalah kau. Bila kau membiarkan materi dan hal-hal duniawi terus melekat pada dirimu, kau tidak mungkin melihat jauh. Tidak dapat melihat kenyataan, tidak bisa melihat kebenaran, tidak dapat melihat manusia sesamamu, tidak dapat melihat kebaikan, tidak dapat melihat keindahan hakiki. Untuk dapat melihat itu semua, kau harus membersihkan lapisan –yang sebenarnya sepele – yang menempel pada dirimu.”
Si bakhil yang egois itu pun tertunduk, meresapkan dawuh sang tokoh. Tetapi, seperti teringat sesuatu, dia pun memberanikan diri bertanya,” Tuanku Syeikh, mengapa tuanku mengizinkan aku sendiri menengok tuanku dan tidak memperkenankan yang lain?”
Sang tokoh pun menjawab, “Sebab, atas izin Allah, setelah kematianku, aku masih akan bertemu mereka nanti di hari hisab di hadapan Allah. Sementara kau, aku tidak akan melihatmu dan tidak akan bertemu kau lagi, apabila kau tidak merubah sikap dan perangaimu.”
Mendengar penuturan tokoh yang shaleh itu, si bakhil pu menangis tersedu-sedu dan seketika menyatakan taubat nashuha.
***
Boleh jadi setiap orang mencintai dirinya sendiri dan mempunyai potensi untuk menjadi egois. Namun, pandangan yang berlebihan terhadap materi dan segala yang bersifat duniawilah kiranya yang benar-benar menyeret orang menjadi pribadi yang egois. Kegilaan terhadap materi dan segala yang bersifat duniawi – yang sebetulnya sepele – itu kemudian memunculkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, dan sifat-sifat lain yang cenderung mengabaikan, bahkan melecehkan pihak lain. ‘Sifat dasar’ manusia yang lain yang disebut makhluk sosial, paling jauh hanya mengantarkan pribadi yang egois kepada fanatisme kelompok yang pada gilirannya justru sering menyulut permusuhan yang lebih luas dan perang.
Sementara itu, tampaknya, hingga kini kehidupan dunia seperti terus dikuasai oleh ‘konsep hidup’ yang serba materi dan duniawi. Doktrin-doktrin ‘kemajuan hidup’ yang masih dikunyah-kunyah dan terus dijejalkan, seperti kapitalisme, komunisme, dan banyak isme-isme yang lain, adalah doktrin-doktrin yang sepenuhnya atau paling tidak bermula dari orientasi kematerian dan keduniawian itu.
Kita sendiri selama puluhan tahun, seperti dididik untuk mencintai dunia ini secara berlebihan. Mereka yang dianggap pemimpin dangan bangga mencontohkan kesuksesan mereka dalam kehidupan duniawi yang mewah melimpah. Sering kali juga dengan memberikan teladan dan semangat serta ‘etos kerja’ yang luar biasa dalam memperoleh kekayaan materi. Seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Falsafat adiluhung jawa, “ Urip ning donya iku ibarate namung mampir ngombe” (Orang hidup di dunia ini, ibaratnya hanyalah singgah minum) atau ungkapan hikmah, “Ad-Dunya mazra’atul akhirat” (Dunia ini adalah tempat menanam untuk dipanen di akhirat kelak) pun terlupakan oleh hingar-bingar mengejar materi. Maka, heranlah kita bila kemudian prinsip-prinsip mulia seperti kemanusiaan, persaudaraan, dan sebagainya takhluk setakhluk-takhluknya kepada kepentingan (duniawi)?
Kalau kini, negeri kita yang kaya-raya gemah ripah loh jinawi ini sampai mengalami keterpurukan sepeti sekarang ini (hutang yang melimpah, pengangguran yang meruah, TKI yang parah, para pemimpin yang serakah, hutan yang dijarah, hingga maraknya pertumpahan darah), bukankah merupakan akibat logis dari sikap dan perangai hasil didikan mencintai dunia yang berlebihan itu ? Bukankah benar kata mutiara yang mengatakan, “Hubbud Dunya ra’su kulli khathi-atin” , (Berlebihan mencintai dunia adalah biang segala kesalahan, sumber segala malapetaka)?
Bila jawabannya ya, maka apa yang kemudian akan kita lakukan? Innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim, (Sungguh Allah tidak akan mengubah sesuatu(nikmat yang Ia anugerahkan) pada suatu kaum (menjadi laknat), sampai mereka sendirilah yang mengubah apa yang ada pada diri-diri mereka’. (Q.S.13:11)
Wallahu a’lam.