By: AA’ Fillah (Ana Akhukum Fillah): Solo.
BANTU AKU MENJAGA MATAKU…
Tinggalkan masa lalu, ukhti. Ini saatnya kita berpikir jernih: menunda berhias sampai ia menjadi berpahala. Adalah konyol, berhias untuk orang yang belum pasti menjadi menjadi suami atau isteri, sementara di dalamnya kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkanya dengan make up perilaku jahiliyah. Dengarlah Allah sendiri mengajakmu bicara:
“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu…” (Al-Ahzab: 33)
Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Betapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas si Iblis, yang menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahili. Mentap perilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti membuat aku tertarik. Memandangmu…, walau selalu…,kata seorang penyanyi, tak akan pernah tumbuh jemu di hatiku.
Astaghfirullah, seharusnya kebahagiaan, ketertarikan, dan ketidakjemuan itu tidak perlu hadir jika ia menghadirkan nyala neraka di pelupuk. Engkau lebih tahu bagaimana menjaga dirimu dari mataku. Bantu aku menjaga mata ini, agar kita semua selamat sampai akhir nanti. Bantu aku, bantu aku menjaga mata ini…

BANTU AKU MENGHINDARI KEBISINGAN SYAHWAT
Yang kedua, ingatlah bahwa telingaku bisa jadi adalah gua yang nyaman bagi syaithan. Di sana ada genderang syahwat yang dengan mudah bisa di tabuh dan diperdengarkan. Lengkingan bisikan dahsyat ini bisa meresonasi syaraf-syaraf syahwati.
“…Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…” (An-Nur: 31)
Tahukah engaku bahwa imajinasi kaum lelaki begitu tinggi? (Ahh..jadi malu!). Betapa ia bisa menelusur dengan detail bayangan atas apa yang ia dengar. Adalah percuma menyembunyikan sesuatu dari seorang lelaki, kalau suaranya masih bisa ditangkap dengan baik oleh telinga. Tak hanya berkait dengan perhiasan yang berbunyi, tetapi suaramu adalah denting-denting frekuensi yang bisa menerbitkan gejolak hati.
“…Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (Al-Ahzab: 32)
Aku tak pernah ingin mengatakan dalam hatiku ada penyakit. Tetapi datangnya sakit kadang tak dikehendaki. Jangan kau katakan, “Ahh itu kan tergantung orangnya. Kalau orangnya ngeres sih apa aja bisa bikin nafsu!” Jangan kau katakan itu. Bukankah kau tahu, meski laki-laki tampak alim dan suci, ada syaithan super ngeres yang bisa hinggap di manapun ia suka. Bantu aku, agar syaithan ngeres itu tahu, kita takkan pernah bisa ia jerumuskan! Selamanya!
BANTU AKU MENJAGA INDRA PEMBAU
Yang ketiga, jangan lupakan hidung. Sebenarnya aku tak tega menyampaikan hadits vonis ini padamu. Tetapi kecintaanku pada Allah dan Rasul yang telah memberikan aturan indah ini jauh lebih besar. Ya, hadits ini bukan memvonismu, tetapi memvonis mereka, wanita-wanita yang suka berparfum ria.
“Wanita mana saja yang memakai haruman kemudian keluar dan lewat di muka orang banyak agar mereka mendapati baunya, maka dia adalah pezina…´(HR. Abu dawud dan At-Tirmidzi).
Ilmu kesehatan masa kini pun jelas menyebutkan bahwa ada sebuah indra pemicu ketertarikan kepada lawan jenis yang letaknya di hidung. Sekali lagi, imajinasi lelaki adalah tinggi. Jangan tanya, mana yang lebih tajam penciumannya terhadap aroma syahwati, laki-laki yang dikuasai syaithan ataukah anjing pemburunya.
KULITKU SANGAT PEKA
Yang keempat, kulit adalah tempat indera perasa. Jika tak dijaga, banyak rasa yang akan hinggap kemudian meninggalkan kesan di sana. Rasa yang bisa menerbangkan kesucian diri dan menanggalkan pakaian malu…hingga yang tersisa tak lebih baik daripada tusukan jarum besi menyala di kepala.
“Sungguh, jika kepala salah seorang dari kalian dicerca dengan jarum besi menyala, adalah masih lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tiada halal baginya.´( HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi).
Apakah kenangan persentuhan kulit mudah dilupakan? Kalau jawabannya tidak, kita jadi tahu betapa bahayanya ia dalam rentang waktu ke depan terhadap angan dan pikiran. Tetapi, kalau jawabannya ya, pasti si penjawab ini sudah sering melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan hingga kulitnya tak lagi peka. Bantu aku, agar jarum besi menyala itu tak pernah hadir dalam kehidupan kita, sejak detik ini sampai nanti ketika kita divonis di pengadilan Allah yang Maha Tinggi.