Tahu acara “Masihkah Kau Mencintaiku”, bukan?. Terlepas dari rekayasa atau bukan, acara ini memang banyak digemari masyarakat. Beberapa hari lalu aku nonton. Dulu juga beberapa kali nonton, tapi kali ini terasa sangat beda. Kali ini kasusny bener2 bikin,,,,hiks hiks hiks…
Sebenarnya, gak enak juga sih lihat aib keluarga orang terbongkar kayak gitu. Sebagai sesama manusia, aku juga ikutan malu. Aku seringnya lihat kasus, dimana aku bersimpati pada si suami coz kebanyakan tuh yang bermasalah adalah istrinya. Tapi kali ini,

aku bener2 geram sama si suami. Geram..geram..geram…

Mbak G***, nama yang masih kuingat sampai sekarang. Cantik, dan begitu pendiam (waktu awal acara sih). Beliau disalah2kan sama suaminya gara2 tidak mau “disentuh” selama 3 bulan terakhir. Mbak G*** didesak dan dituduh dengan tuduhan yang menyakitkan dari pihak keluarga suami. Namun Mbak G*** tetap kalem, dan jawabannya hanyalah:”Keluarga kami baik-baik saja…”. Singkat cerita, tibalah saatnya Mas Helmi sebagai pembawa acara bertanya kepada Mbak G***, sebenarnya kenapa Mbak G*** tidak mau melayani suaminya??? Dan jawaban Mbak G***: “Saya tidak mau melayani jika masih ada beban berat di hati saya”. Kurang lebih begitu lah jawaban beliau. Acara pun masih berlangsung lama dan ribut antara kedua pihak keluarga. Saling menghujat dan menyalahkan.Sekali lagi, aku tak tahu apakah acara ini asli atau rekayasa. Aku hanya menanggapi apa yang mampu aku lihat. Dan jika ini asli, semoga Mbak G*** mendapatkan ganti yang lebih baik.
Oke, aku teruskan ceritanya. Atas desakan hampir semua orang yang aktif di studio, Mbak G*** pun akhirnya berbicara. “Pa, apa papa masih ingat sekitar setahun yang lalu, dengan mata kepalaku sendiri, kulihat papa tiduri pembantu kita!” ucapnya dengan menahan tangis. Semua kaget, suasana ricuh, dan keluarga si suami menuntut bukti! “Saya punya bukti!” ucap Mbak G***. Dan diputarlah video pengakuan dari mantan pembantu Mbak G*** tersebut.
Si suami tertunduk, dia tidak menyangka bahwa peristiwa itu masih menghantui istrinya. Mungkin dia tidak mengerti betapa besar kesalahannya. Mungkin dia menganggap dosa itu sudah terbang tertiup angin dan tak berbekas. Tapi kini dia mulai tahu, dan mengingat kesalahannya (baca:dosa besarnya). Mbak G*** sudah mencoba menutupi aib itu, namun ia terus didesak dan dituduh punya laki-laki lain. Mbak G*** sebenarnya ingin mempertahankan keluarganya, namun sebagai wanita biasa, beliau punya perasaan yang terlalu lembut untuk mendapat luka sedalam itu. Di studio, saat itu, mbak G*** mulai emosi dan mengatakan:”Sampai kapan pun aku tidak akan bisa memaafkanmu! Aku jijik sama kamu!”,,,dan sebelum meninggalkan studio dengan paksa, mbak G*** sempat berkata:”Pa, apakah waktu papa tiduri pembantu itu papa ga ingat anak istri!!!”.
Menyakitkan, dan aku seakan merasakan luka yang dialami Mbak G***. Yang lebih menyakitkan adalah, pernyataan pembantu tersebut yang mengatakan bahwa ia dihamili, dan setelah janinnya digugurkan, ia ditiduri lagi. MaasyaAlloh. Jika saja hukum Islam tegak, maka laki-laki itu sudah dirajam. Dilempari batu hingga mati. Agar ia merasakan sakit luarbiasa, sebagai ganti kenikmatan sementara dalam perbuatan zinanya.
Jika ini kisah nyata tanpa rekayasa, saya sampaikan salam untuk Mbak G***.
Di dunia ini, mungkin ada banyak kasus seperti/ semacam ini. Dan wanita2 perkasa mungkin ada. Wanita perkasa bukanlah mereka yang menyalahi fitrohnya, namun tetap anggun, tetap lembut, tapi memiliki kekuatan hati, menerima dengan tabah dan sabar semua ujian, dan yang terutama: mau memaafkan. Sungguh langka. Bahkan aku pun tidak termasuk di dalamnya.

Dalam contoh kasus di atas, ketika Mbak G*** memergoki suaminya bersama pembantu, dan si suami meminta maaf, mbak G*** sanggup mengucapkan kata maaf. Namun luka tetaplah luka. dan dosa zina tak bisa ditebus dengan kata maaf dari istri/suami. Maka wahai para istri/suami. Jagalah pasanganmu dan dirimu. Doakan pendamping hidupmu, agar Alloh menjaganya dan menjaga dirimu dengan sebaik-baik penjagaan.