Lulus SMA. Seneeng rasanya. Namun kesedihan tuh kenapa ya maunya ikut2an juga. Singkat cerita, SPMB ku diterima pada pilihan pertama. Gizi Kesehatan FK Universitas Brawijaya, Malang. Orangtuaku senang. Aku pun senang. Tapi tidak kuingkari bahwa aku juga sedih. Waktu itu aku punya temen. Tepatnya sahabat dekat. A** namanya. Pada malam sebelum aku berangkat ke Malang, ia menginap di rumahku. Sekitar pukul 02.00 WIB (dini hari rek!) aku dan ayahku mengantarnya pulang n sekaligus jadi momen perpisahan kami. Hiks, nangis lah berdua. Setelah puas menangis, aku melanjutkan perjalananku. Rasanya sedih, seneng, semangat, campur aduk lah. Setelah 6 jam yang melelahkan, aku tiba juga di kota asing itu. Entah kenapa, sampai sekarang aku merasakan musim dingin tiba selalu bertepatan dengan masuknya mahasiswa baru, seperti ketika aku datang itu. Dingin,, bener! Aku ga bohong! Aku benar2 merasa asing disana. Seingatku,

terakhir kali aku ke Malang adalah waktu liburan ke selecta bersama keluargaku, dan waktu itu aku masih kecil.
Setiba di Malang, kami menuju ke Universitas Brawijaya. Keliling-keliling dulu. Udah ketemu perpus, trus muter, dan ketemu lah gedung FK. Dulu waktu aku masuk, gedungnya belum kayak digambar gitu, masih gedung lama yg mau direnovasi, so kami ngungsi di gedung fakultas lain. Liat2 udah (plus udah liat tugas ospek nya yang,,,,subhanalloh….!!!!), trus kami jalan lagi nyari kos2an. Dapet deh setelah muter2. Fasilitas lengkap, ruangan nyaman, ada temen sekelas yg kos disana, kayaknya perfect yah! But……oh, tak usah diceritakan, luka lama…. yang jelas aku terpaksa bertahan dengan segenap kekuatanku selama setahun disana. Berangkat pagi2, pulang maghrib, lebih betah di kampus, kalo saja aku ikhwan mungkin aku lebih memilih bobo di masjid deh. Perjuangan penuh air maa selama setahun. Waktu awal2 ngekos, aku kena yang kusebut “Sindrom Senja”. Temanku, A**, yang memberitahuku nama penyakit itu. Mulai pukul 16.00 WIB aku merasakan gelisah dan sedih plus takut yang amat sangat. Aku seperti orang kebingungan. Yang begitu itu berlangsung hingga sehabis adzan Isya. selepasnya aku tenang kembali. Beberapa hari kemudian aku kenal dengan beberapa orang akhwat. So, aku mengungsi ke kontrakan mereka ketika aku kesepian dan waktu penyakitku itu kambuh.
Waktu itu aku mulai dapat teman dekat. Namanya Id***. Dia sangat baik. Asalnya dari Ngawi, jadi logat-bahasanya sama seperti aku, dan aku merasa nyaman karenanya. Tau sendiri kan Malang udah beda logatnya dengan Sragen. Aku sempat refreshing, jalan2 sama Id***. Ke kota. Di depan Balai Kota ada Tugu yang dikelilingi kolam teratai. Kalo kamu pernah lihat Punk in Love, pasti tau itu tugu.

Masa2 ospek sangat berat bagiku. Aku jauh dari orang2 yang menyayangiku. Tapi ada begitu banyak hikmah. Aku jadi lebih kuat, dan lebih dekat denganNya. Dan aku jadi lebih bisa bersyukur ketika aku berjumpa dengan teman2 seperjuanganku. FK Brawijaya. Banyak teman2 seperjuangan fii sabiilillah di sana. Ospeknya pun, subhanalloh, meskipun menguras fikiran dan tenaga (dan air mata), tapi kemasan dan isinya lumayan syar’i. Bisa dibilang full ngaji. Gimana nggak, lha trainer2 yang ngisi ospek tuh ‘ikhwan’2. Panitia ospeknya pun temen2 yang ngaji, so, i am happy. Lega rasanya waktu masuk ke area FK ngelihat mbak2 berkerudung lebar. Bahkan aku sempet ditanya soal surat transfer, hehe, jadi nggak enak, aku kan nggak mau ditransfer2, hihi, makasih ya Mbak Li***, S.Gz. Aku sangat merindukanmu. terimakasih atas kebaikanmu selama ini. Uhibbukifillah…
Gitu deh cerita awal perjuanganku di tanah orang. Tapi kini,,,hah…ke Malang tuh rasanya kayak pulang, di Malang tuh rasanya dah kayak rumah sendiri…hehe…tapi tetep aja pengen pulang ke my home sweet home…”sragenku sayang sragenku bukan malang”…